Cara Yang Baik Untuk Mendidik Anak - Ketika orang tua mulai menyadari
akan rendahnya akhlak si anak, maka muncul beberapa pertanyaan: “mengapa anakku
seperti ini?”, “Prilaku siapakah yang ia tiru?” “Apakah aku salah dalam
mendidik anak?” Dan pertanyaan lainnya. Mungkin jika kita rangkum pertanyaan
tersebut, maka akan bermuara pada pertanyaan “bagaimana sih cara yang baik untuk
memberikan pendidikan anak …?”
. Pendoman hidup kita adalah Al-qur’an dan Alhadist, termasuk di dalamnya pedoman kita dalam memberikan pendidikan anak. Untuk lebih memahaminya, tentu kita memerlukan pendapat dan nasehat dari tokoh agama (ulama). Sebelumnya kita telah membahas sedikit tafsir ayat Al-qur’an tentang pendidikan anak, berikut kita akan membahas “cara yang baik untuk mendidik anak”.
A.
Luqmanul Hakim dan Taburan Hikmah
Menurut
Ahmad Zayadi, dkk ( 2004:176) ungkapan-ungkapan Luqman patut dijadikan teladan
oleh siapapun pada zaman ini, sistematika nasehatnya yang dikemas dengan indah,
tersusun dengan teratur dan didukung oleh contoh dan budi pekerti yang amat
mulia, sehingga terhujam kedalam hati. Ia mulai menaburkan nasihatnya dengan
tauhid/ mengesakan Allah, mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah
(beribadah) dan menanankan budi pekerti yang mulia (akhlak al- karimah)
sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman [31]:13 yang kita bahas sebelumnya.
Luqman
meneruskan wasiat kepada putra- putranya untuk senantiasa memelihara dan
memupuk rasa keimanan kepada Allah dengan senantiasa mengadakan komunikasi
dengan Allah melalui ibadah shalat, mengerjakan yang baik dan mencegah yang
mungkar dan bersabar atas segala sesuatu yang menimpanya.
Lebih
lanjut, luqman mengingatkan putra- putranya untuk menjaga, memelihara dan menampilkan
akhlak yang mulia. Saling mengasihi diantara mereka, tidak sombong dan angkuh,
apalagi sampai membuang muka. Hal ini digambarkan dalam firman-Nya:
وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ﴿١٨﴾ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚإِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
﴿١٩﴾
Artinya
:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan
diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Luqman
berkata pada putra- putranya “pilihlah delapan macam perkataan para Nabi a.s” :
1. Apabila engkau sedang melakukan shalat, maka
peliharalah hatimu2. Apabila engkau sedang berada dalam rumah orang lain, maka peliharalah matamu.
3. Apabila engkau berada ditengah- tengah manusia, maka jagalah mulutmu.
4. Apabila engkau sedang berada dalam hidangan, maka peliharalah orang di sekelilingmu.
5. Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal, dua hal yang harus diingat adalah Allah swt (5) dan mati (6). Sedangkan dua hal yang harus dilupakan ialah kebaikanmu terhadap orang lain (7) dan kejelekan orang lain terhadap kamu (8).
Disamping
itu pula, ternyata luqmanul hakim sangat piawai dalam menanamkan rasa
kepercayaan diri dan sikap istiqamah kepada putra- putranya dalam beramal
shaleh ditengah- tengah terjangan badai godaan yang sangat besar. Hal ini patut
ditiru oleh para orang tua, guru pada saat ini ditengah derasnya arus informasi
yang susah dibendung, pergeseran budaya yang telah merusak tatanan kehidupan
dan merebaknya peredaran obat- obat terlarang.
B.
Pendidikan Akhlak
Bambang
Trim ( 2005:8 ) mengatakan, bahwa Sudah banyak contoh bagaimana orang
tergelicir karena rendahnya akhlak. Meskipun orang tersebut pintar secara
intelektual dan lulus dari perguruan tinggi ternama, karier dan kehidupannya
hancur karena tidak memiliki akhlak yang baik. Hal itu ternyata disebabkan oleh
minimnya pendidikan akhlak. Ia benar- benar dicetak menjadi anak supercerdas
secara akademik, namun benar-benar rendah secara akhlak. Ingatlah hak anak
seperti yang diungkapkan Rasulullah saw :
“seorang datang kepada Nabi saw dan
bertanya,”Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?’ Nabi saw menjawab,’memberinya
nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik
(dalam hati),’ (HR. Aththusi).
Peran
ayah dan ibu sangat penting, terutama ibu yang mengasuh dan menjaga anak,
memberikan perlindungan serta memberikan rangsangan dan pendidikan. Dipihak
lain, sang ayah dengan tugas tradisoinalnya melindungi keluarga dan mencari
nafkah, harus ditambah lagi dengan menerapkan child management dalam
pendidikan anak. Ayah berperan membentuk kedisiplinan dan menyiapkan anak
menghadapi realitas kehidupan.
Menurut
Bambang Trim (2005:63) akhlak mulia yang bisa ditanamkan dan ditumbuhkan pada
jiwa kanak- kanak, adalah sebagai berikut:
1. Mencintai Allah.
Memang
perlu kesabaran, ketelatenan dan kejelian untuk mengenalkan Allah Swt kepada
anak dan membuat mereka mencintai-Nya. Oleh karena itu, dalam keluarga muslim,
aktivitas yang bermuara kepada Allah seperti berdoa, shalat, bersyukur dan
mengaji mutlak menghiasi rumah- rumah keluarga muslim.
Dalam
hal mencintai Allah, anak juga akan melihat seberapa besar kecintaan orang
tuanya terhadap Allah. Hal- hal konkret yang dilihat anak adalah ibadah sehari-
hari orang tua, sikap orang tua terhadap ayah dan ibunya (kakek,nenek), selaras
kata dan perbuatan, larangan yang tidak dilanggar sendiri oleh orang tua,
hubungan baik dengan sesama manusia dan kecintaan kepada sesama makhluk Allah.
2. Mencintai Rasulullah.
Menurut
Bambang Trim (2005:66) anak- anak kita mungkin sama dengan teman-teman
seusianya menyukai tokoh- tokoh superhero rekaan manusia ataupun tokoh-
tokoh yang kerap mereka lihat di layar kaca. Sejak dini, kenalkan tokoh
Rasulullah saw sebagi sosok idola anak muslim sebelum tersalip dengan
tokoh- tokoh lain yang lebih yang lebih nyata bagi mereka.kisah keteladanan
maupun kepahlawanan beliau harus sudah mulai disampaikan kepada anak- anak
lewat buku, maupun lewat penceritaan langsung dari orang tua.
3. Mencintai Al- qur’an.
Kegiatan
mengaji Al-qur’an yang dipertontonkan atau ditunjukan kepada anak sejak dini
akan mengundang keingintahuan anak dan membuat mereka terbiasa mendengar
lantunan ayat suci.
Mengajarkan
Al-qur’an merupakan dasar pendidikan islam. Demikianlah sehingga Rasulullah saw
pun bersabda, ”sebaik- baik orang di
antara kamu adalah yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya” (HR
Bukhari ). Oleh karena itu sebaik-baik orang tua adalah yang mempelajari
Al-qur’an dan mengajarkan kepada anak- anaknya. “Didiklah anak- anakmu atas tiga hal: mencintai nabi mereka, mencintai
keluarga Nabi, dan membaca Al-qur’an”( HR Ath-Tabrani ).
4. Belajar Ibadah Wajib
Menurut
Bambang Trim (2005:71) untuk lebih memantapkan akhlak anak, orang tua dapat
mulai mengenalkan ibadah wajib sedini mungkin ketika anak menginjak usia tiga
tahun. Rasulullah saw bersabda :“Mulailah mendidik bayi- bayi kalian dengan
ucapan laa ilaha ilallah”. Sabda Rasul menyiratkan bahwa kali pertama
kalimat yang didengar anak adalah kalimat tauhid sebagai syiar islam.
Nabi
Muhammad saw pun pernah menegaskan, “perintahkan
anak- anakmu untuk melakukan shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka
atasnya pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah diantara mereka tempat tidurnya”
( HR Hakim dan Abu Daud ) . Pukulan yang dimaksud dalam sabda
Rasulullah saw tersebut dimaksudkan untuk mendidik (Dr.Hj Huzaemah Tahido
Yanggo, 2004:24).
5. Mengenalkan Halal dan Haram.
Dari
ibnu Mas’ud ra telah berkata Rasulullah saw, “Taatlah kamu kepada Allah dan takutlah kamu berbuat maksiat
kapada-Nya. Perintahkanlah semua anakmu untuk mengerjakan suruhan, dan menjauhi
larangan karena hal itu merupakan benteng bagi mereka dan bagimu dari api
neraka” (HR Ibnu Jarir dan Ibnu Muzir ).
Referensi:






0 komentar:
Posting Komentar