Selamat datang dan semoga bermanfaat...!

Rabu, 27 April 2016

TENTANG CARA MENDIDIK ANAK




Cara Yang Baik Untuk Mendidik Anak - Ketika orang tua mulai menyadari akan rendahnya akhlak si anak, maka muncul beberapa pertanyaan: “mengapa anakku seperti ini?”, “Prilaku siapakah yang ia tiru?” “Apakah aku salah dalam mendidik anak?” Dan pertanyaan lainnya. Mungkin jika kita rangkum pertanyaan tersebut, maka akan bermuara pada pertanyaan “bagaimana sih cara yang baik untuk memberikan pendidikan anak …?”
. 
Pendoman hidup kita adalah Al-qur’an dan Alhadist, termasuk di dalamnya pedoman kita dalam memberikan pendidikan anak. Untuk lebih memahaminya, tentu kita memerlukan pendapat dan nasehat dari tokoh agama (ulama). Sebelumnya kita telah membahas sedikit tafsir ayat Al-qur’an tentang pendidikan anak, berikut kita akan membahas “cara yang baik untuk mendidik anak”.

A.  Luqmanul Hakim dan Taburan Hikmah

Menurut Ahmad Zayadi, dkk ( 2004:176) ungkapan-ungkapan Luqman patut dijadikan teladan oleh siapapun pada zaman ini, sistematika nasehatnya yang dikemas dengan indah, tersusun dengan teratur dan didukung oleh contoh dan budi pekerti yang amat mulia, sehingga terhujam kedalam hati. Ia mulai menaburkan nasihatnya dengan tauhid/ mengesakan Allah, mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah (beribadah) dan menanankan budi pekerti yang mulia (akhlak al- karimah) sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman [31]:13 yang kita bahas sebelumnya.

Luqman meneruskan wasiat kepada putra- putranya untuk senantiasa memelihara dan memupuk rasa keimanan kepada Allah dengan senantiasa mengadakan komunikasi dengan Allah melalui ibadah shalat, mengerjakan yang baik dan mencegah yang mungkar dan bersabar atas segala sesuatu yang menimpanya.

Lebih lanjut, luqman mengingatkan putra- putranya untuk menjaga, memelihara dan menampilkan akhlak yang mulia. Saling mengasihi diantara mereka, tidak sombong dan angkuh, apalagi sampai membuang muka. Hal ini digambarkan dalam firman-Nya:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ﴿١٨﴾ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚإِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ ﴿١٩﴾

Artinya :
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Luqman berkata pada putra- putranya “pilihlah delapan macam perkataan para Nabi a.s” :
1.  Apabila engkau sedang melakukan shalat, maka peliharalah hatimu
2.  Apabila engkau sedang berada dalam rumah orang lain, maka peliharalah matamu. 
3.  Apabila engkau berada ditengah- tengah manusia, maka jagalah mulutmu. 
4.  Apabila engkau sedang berada dalam hidangan, maka peliharalah orang di sekelilingmu.
5.  Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal, dua hal yang harus diingat adalah Allah swt (5) dan mati (6). Sedangkan dua hal yang harus dilupakan ialah kebaikanmu terhadap orang lain (7) dan kejelekan orang lain terhadap kamu (8).

Disamping itu pula, ternyata luqmanul hakim sangat piawai dalam menanamkan rasa kepercayaan diri dan sikap istiqamah kepada putra- putranya dalam beramal shaleh ditengah- tengah terjangan badai godaan yang sangat besar. Hal ini patut ditiru oleh para orang tua, guru pada saat ini ditengah derasnya arus informasi yang susah dibendung, pergeseran budaya yang telah merusak tatanan kehidupan dan merebaknya peredaran obat- obat terlarang.

B.  Pendidikan Akhlak

Bambang Trim ( 2005:8 ) mengatakan, bahwa Sudah banyak contoh bagaimana orang tergelicir karena rendahnya akhlak. Meskipun orang tersebut pintar secara intelektual dan lulus dari perguruan tinggi ternama, karier dan kehidupannya hancur karena tidak memiliki akhlak yang baik. Hal itu ternyata disebabkan oleh minimnya pendidikan akhlak. Ia benar- benar dicetak menjadi anak supercerdas secara akademik, namun benar-benar rendah secara akhlak. Ingatlah hak anak seperti yang diungkapkan Rasulullah saw :
“seorang datang kepada Nabi saw dan bertanya,”Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?’ Nabi saw menjawab,’memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hati),’ (HR. Aththusi).

Peran ayah dan ibu sangat penting, terutama ibu yang mengasuh dan menjaga anak, memberikan perlindungan serta memberikan rangsangan dan pendidikan. Dipihak lain, sang ayah dengan tugas tradisoinalnya melindungi keluarga dan mencari nafkah, harus ditambah lagi dengan menerapkan child management dalam pendidikan anak. Ayah berperan membentuk kedisiplinan dan menyiapkan anak menghadapi realitas kehidupan.

Menurut Bambang Trim (2005:63) akhlak mulia yang bisa ditanamkan dan ditumbuhkan pada jiwa kanak- kanak, adalah sebagai berikut:

1.  Mencintai Allah.

Memang perlu kesabaran, ketelatenan dan kejelian untuk mengenalkan Allah Swt kepada anak dan membuat mereka mencintai-Nya. Oleh karena itu, dalam keluarga muslim, aktivitas yang bermuara kepada Allah seperti berdoa, shalat, bersyukur dan mengaji mutlak menghiasi rumah- rumah keluarga muslim.

Dalam hal mencintai Allah, anak juga akan melihat seberapa besar kecintaan orang tuanya terhadap Allah. Hal- hal konkret yang dilihat anak adalah ibadah sehari- hari orang tua, sikap orang tua terhadap ayah dan ibunya (kakek,nenek), selaras kata dan perbuatan, larangan yang tidak dilanggar sendiri oleh orang tua, hubungan baik dengan sesama manusia dan kecintaan kepada sesama makhluk Allah.

2.  Mencintai Rasulullah.

Menurut Bambang Trim (2005:66) anak- anak kita mungkin sama dengan teman-teman seusianya menyukai  tokoh- tokoh superhero rekaan manusia ataupun tokoh- tokoh yang kerap mereka lihat di layar kaca. Sejak dini, kenalkan tokoh Rasulullah saw sebagi sosok idola anak muslim sebelum tersalip dengan  tokoh- tokoh lain yang lebih yang lebih nyata bagi mereka.kisah keteladanan maupun kepahlawanan beliau harus sudah mulai disampaikan kepada anak- anak lewat buku, maupun lewat penceritaan langsung dari orang tua.

3.  Mencintai Al- qur’an.

Kegiatan mengaji Al-qur’an yang dipertontonkan atau ditunjukan kepada anak sejak dini akan mengundang keingintahuan anak dan membuat mereka terbiasa mendengar lantunan ayat suci.

Mengajarkan Al-qur’an merupakan dasar pendidikan islam. Demikianlah sehingga Rasulullah saw pun bersabda, ”sebaik- baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari ). Oleh karena itu sebaik-baik orang tua adalah yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkan kepada anak- anaknya. “Didiklah anak- anakmu atas tiga hal: mencintai nabi mereka, mencintai keluarga Nabi, dan membaca Al-qur’an”( HR Ath-Tabrani ).

4.  Belajar Ibadah Wajib

Menurut Bambang Trim (2005:71) untuk lebih memantapkan akhlak anak, orang tua dapat mulai mengenalkan ibadah wajib sedini mungkin ketika anak menginjak usia tiga tahun. Rasulullah saw bersabda :“Mulailah mendidik bayi- bayi kalian dengan ucapan laa ilaha ilallah”. Sabda Rasul menyiratkan bahwa kali pertama kalimat yang didengar anak adalah kalimat tauhid sebagai syiar islam.

Nabi Muhammad saw pun pernah menegaskan, “perintahkan anak- anakmu untuk melakukan shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka atasnya pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah diantara mereka tempat tidurnya” ( HR Hakim dan Abu Daud ) . Pukulan yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw tersebut dimaksudkan untuk mendidik (Dr.Hj Huzaemah Tahido Yanggo, 2004:24).

5.  Mengenalkan Halal dan Haram.

Dari ibnu Mas’ud ra telah berkata Rasulullah saw, “Taatlah kamu kepada Allah dan takutlah kamu berbuat maksiat kapada-Nya. Perintahkanlah semua anakmu untuk mengerjakan suruhan, dan menjauhi larangan karena hal itu merupakan benteng bagi mereka dan bagimu dari api neraka” (HR Ibnu Jarir dan Ibnu Muzir ).

Referensi:

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More