Tafsir Ayat Tentang Pendidikan Anak - Anak
adalah titipan dan amanah dari Allah S.W.T kepada setiap orang tua. Untuk itu,
sudah sepatutnya orang tua menjaga dan memberikan pendidikan yang baik kepada
si anak. tidak bisa dipungkiri, jika sering kita dengar bahwa setiap orang tua
menginginkan anak yang sholeh / sholeha, namun dalam memberikan pendidikan,
mereka tergelincir untuk mencetak anak yang super cerdas dalam bidang akademik
namun lupa akan pendidikan akhlak.
Sebagaiman yang dikemukakan Bambang Trim ( 2005:8 ) mengatakan, bahwa Sudah banyak contoh bagaimana orang tergelicir karena rendahnya akhlak. Meskipun orang tersebut pintar secara intelektual dan lulus dari perguruan tinggi ternama, karier dan kehidupannya hancur karena tidak memiliki akhlak yang baik. Hal itu ternyata disebabkan oleh minimnya pendidikan akhlak. Ia benar- benar dicetak menjadi anak supercerdas secara akademik, namun benar-benar rendah secara akhlak
Hal ini mungkin akibat
kelalaian orang tua ataupun karena kurangnya pemahaman islam tentang pendidikan
anak yang telah diterangkan dalam Al-qur'an. untuk membahas pendidikan anak
ini, berikut beberapa ayat-ayat Al-qur'an dan tafsirannya sebagai pedoman awal
bagi kita dalam memberikan pendidikan pada anak.
نِسَاؤُكُمْ
حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْۖوَقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا
اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُم مُّلَاقُوهُ ۗوَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ﴿٢٢٣﴾
Artinya
:
“Isteri-isterimu adalah
(seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat
bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki . Dan kerjakanlah (amal yang
baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu
kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”
B. At-
Tahrim ( 66: 6 )
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا
أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴿٦﴾
Artinya
:
”Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras,
yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka
dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Tentang
ayat : قُواْأَنفُسَكُمْوَأَهْلِيكُمْنَاراً
“Jagalah diri dan keluarga kamu dari api
(neraka)’
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Talhah, dari Ibn `Abbas radhiallahu 'anhu: Dia berkata, "Bekerja dalam ketaatan kepada Allah, menghindari ketidaktaatan kepada Allah, dan jagalah keluarga kalian untuk selalu taat dan mengingat Allah, maka Allah akan menyelamatkan kalian dari neraka".
Mujahid
berkata :
"Bertaqwalah
kepada Allah dan jagalah keluarga kalian agar bertaqwa kepada Allah".
Qatadah
berkata:
"Dia
diperintah untuk taat kepada Allah, untuk tidak mendurhakai Allah, dan dia
diperintah agar keluarganya mematuhi perintah Allah, dan dia membantu
keluarganya untuk bertindak diatas perintah Allah. Ketika melihat
ketidaktaatan, dia cegah keluarganya dan melarang keluarganya dari melakukan
hal tersebut".
Ad-Dahhak
dan Muqatil berkata:
"Ini
adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengajari keluarga dekatnya,
budak-budak laki-laki dan perempuan, terhadap apa-apa yang telah Allah wajibkan
bagi mereka, dan apa-apa yang telah Allah larang bagi mereka".
وَقُودُهَاالنَّاسُوَالْحِجَارَةُ
'berbahan bakar manusia dan batu'.
Hal
ini menggambarkan bahwa manusia, anak cucu Adam, akan menjadi bahan bakar api
neraka.
Sedangkan: وَالْحِجَارَةُ
“batu’
Hal
ini menggambarkan berhala-berhala yang disembah oleh manusia. Firman Allah
Ta'ala:
إِنَّكُمْوَمَاتَعْبُدُونَمِندُونِاللَّهِحَصَبُجَهَنَّمَأَنتُمْلَهَاوَارِدُونَ
"Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya"[Al Anbiyaa:98].
Abdullah
bin Mas`ud, Mujahid, Abu Ja`far Al-Baqir and As-Suddi berkata:
"Ini adalah batu belerang yang lebih busuk dari mayat busuk".
"Ini adalah batu belerang yang lebih busuk dari mayat busuk".
عَلَيْهَامَلَـئِكَةٌغِلاَظٌشِدَادٌ
“penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar, (dan) keras”
Maknanya:
para malaikat berperilaku tegas, karena rahmat (rasa belas kasihan) telah
dibawa keluar dari hati mereka untuk orang-orang yang kafir kepada Allah.
شِدَادٌ
“keras”
Maknanya:
sangat kuat, sangat perkasa.
لاَّيَعْصُونَاللَّهَمَآأَمَرَهُمْوَيَفْعَلُونَمَايُؤْمَرُونَ
“dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan”.
Maknanya
: Apapun perintah Allah, mereka bergegas mematuhi-Nya, tanpa penundaan bahkan
hanya sekejap mata. Mereka selalu memenuhi perintah Allah, mereka disebut Az-Zabaniyah,
yang berarti, para penjaga dan penjaga neraka.
Abdullah
Nasis Ulwan dalam bukunya pendidikan anak dalam islam mengatakan bahwa surah
ini adalah sebagai perintah untuk melakukan pendidikan anak dengan
perhatian/pengawasan . Makna perhatian adalah mencurahkan segenap perhatian
penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, mengawasi dan
memperhatikan kesiapan mental dan sosial.
C. Lukman ( 31:
13 )
وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖإِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾
Artinya
:
“Dan (ingatlah) ketika
Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Kata ya’izhuhu terambil
dari kata wa’zb yaitu nasehat menyangkut berbagai kebajikan
dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikannya sebagai ucapan
yang mengandung peringatan dan ancaman. Penyebutan kata ini sesudah kata “dia
berkata” untuk memberi gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau
sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana
dipahami dari panggilan mesranya kepada anak. Kata ini juga mengisyaratkan
bahwa nasihat itu dilakukan dari saat ke saat.
Kata “bunnayya” adalah
patron yang menggambarkan kemungilan. Asalnya adalah “ibny” dari kata“ibn” yakni
anak lelaki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayang. Dari sini kita
dapat berkata bahwa ayat diatas memberi isyarat bahwa mendidik hendaknya
didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik.
Luqman
memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/
mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang
wudhu’ dan keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan
mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk
sebelum melaksanakan yang baik.
D. An- Nisa’ ( 4:
9 )
وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا
اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٩﴾
Artinya
:
“Dan hendaklah takut kepada
Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak
yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab
itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar.”
Dari
kata sadidan yang mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya,
diperoleh pula petunjuk bahwa ucapan yang meruntuhkan, jika disampaikan harus
pula dalam saat yang sama memperbaikinya, artinya kritik yang disampaikan
hendaknya merupakan kritik yang membangun atau dalam arti informasi yang
disampaikan harus mendidik.
E. At- Thur
( 52: 21 )
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ
رَهِينٌ ﴿٢١﴾
Artinya
:
“Dan orang-orang yang
beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami
hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun
dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya.”
Ayat diatas menurut
Thabathaba’i merupakan salah satu penyampaian berita gembira tentang anugerah
Allah kepada orang- orang beriman, bahwa anak cucu mereka akan mengikuti mereka
masuk ke surga sehingga lebih sempurna lagi kegembiraan mereka. Atas dasar itu,
maka tanwin pada kata bi iman (in) bukan menunjukan
kebesaran dan kesempurnaan iman itu, tetapi kesederhanaannya - selama telah
tercapai batas minimal - walau tidak mencapai peringkat iman orang tua mereka.
Referensi :
http://denidavinc.blogspot.co.id/2012/09/ayat-ayat-pendidikan-anak.html






0 komentar:
Posting Komentar