Selamat datang dan semoga bermanfaat...!

Selasa, 26 April 2016

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM (TAFSIR AYAT)


Tafsir Ayat Tentang Pendidikan Anak - Anak adalah titipan dan amanah dari Allah S.W.T kepada setiap orang tua. Untuk itu, sudah sepatutnya orang tua menjaga dan memberikan pendidikan yang baik kepada si anak. tidak bisa dipungkiri, jika sering kita dengar bahwa setiap orang tua menginginkan anak yang sholeh / sholeha, namun dalam memberikan pendidikan, mereka tergelincir untuk mencetak anak yang super cerdas dalam bidang akademik namun lupa akan pendidikan akhlak.  



Sebagaiman yang dikemukakan Bambang Trim ( 2005:8 ) mengatakan, bahwa Sudah banyak contoh bagaimana orang tergelicir karena rendahnya akhlak. Meskipun orang tersebut pintar secara intelektual dan lulus dari perguruan tinggi ternama, karier dan kehidupannya hancur karena tidak memiliki akhlak yang baik. Hal itu ternyata disebabkan oleh minimnya pendidikan akhlak. Ia benar- benar dicetak menjadi anak supercerdas secara akademik, namun benar-benar rendah secara akhlak
 
Hal ini mungkin akibat kelalaian orang tua ataupun karena kurangnya pemahaman islam tentang pendidikan anak yang telah diterangkan dalam Al-qur'an. untuk membahas pendidikan anak ini, berikut beberapa ayat-ayat Al-qur'an dan tafsirannya sebagai pedoman awal bagi kita dalam memberikan pendidikan pada anak.

A.     Al- Baqarah ( 2: 223 )

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْۖوَقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُم مُّلَاقُوهُ ۗوَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ﴿٢٢٣﴾

Artinya :
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki . Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

B.     At- Tahrim ( 66: 6 )

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴿٦﴾

Artinya :
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Tentang ayat :  قُواْأَنفُسَكُمْوَأَهْلِيكُمْنَاراً

“Jagalah diri dan keluarga kamu dari api (neraka)’

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Talhah, dari Ibn `Abbas radhiallahu 'anhu: Dia berkata, "Bekerja dalam ketaatan kepada Allah, menghindari ketidaktaatan kepada Allah, dan jagalah keluarga kalian untuk selalu taat dan mengingat Allah, maka Allah akan menyelamatkan kalian dari neraka".

Mujahid berkata :
"Bertaqwalah kepada Allah dan jagalah keluarga kalian agar bertaqwa kepada Allah".

Qatadah berkata:
"Dia diperintah untuk taat kepada Allah, untuk tidak mendurhakai Allah, dan dia diperintah agar keluarganya mematuhi perintah Allah, dan dia membantu keluarganya untuk bertindak diatas perintah Allah. Ketika melihat ketidaktaatan, dia cegah keluarganya dan melarang keluarganya dari melakukan hal tersebut".

Ad-Dahhak dan Muqatil berkata:
"Ini adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengajari keluarga dekatnya, budak-budak laki-laki dan perempuan, terhadap apa-apa yang telah Allah wajibkan bagi mereka, dan apa-apa yang telah Allah larang bagi mereka".

وَقُودُهَاالنَّاسُوَالْحِجَارَةُ

'berbahan bakar manusia dan batu'.

Hal ini menggambarkan bahwa manusia, anak cucu Adam, akan menjadi bahan bakar api neraka.

Sedangkan: وَالْحِجَارَةُ 

“batu’

Hal ini menggambarkan berhala-berhala yang disembah oleh manusia. Firman Allah Ta'ala:

إِنَّكُمْوَمَاتَعْبُدُونَمِندُونِاللَّهِحَصَبُجَهَنَّمَأَنتُمْلَهَاوَارِدُونَ

"Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya"[Al Anbiyaa:98].

Abdullah bin Mas`ud, Mujahid, Abu Ja`far Al-Baqir and As-Suddi berkata:
"Ini adalah batu belerang yang lebih busuk dari mayat busuk".

عَلَيْهَامَلَـئِكَةٌغِلاَظٌشِدَادٌ

“penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, (dan) keras”

Maknanya: para malaikat berperilaku tegas, karena rahmat (rasa belas kasihan) telah dibawa keluar dari hati mereka untuk orang-orang yang kafir kepada Allah.

شِدَادٌ

“keras”

Maknanya: sangat kuat, sangat perkasa.

لاَّيَعْصُونَاللَّهَمَآأَمَرَهُمْوَيَفْعَلُونَمَايُؤْمَرُونَ

“dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Maknanya : Apapun perintah Allah, mereka bergegas mematuhi-Nya, tanpa penundaan bahkan hanya sekejap mata. Mereka selalu memenuhi perintah Allah, mereka disebut Az-Zabaniyah, yang berarti, para penjaga dan penjaga neraka.

Abdullah Nasis Ulwan dalam bukunya pendidikan anak dalam islam mengatakan bahwa surah ini adalah sebagai perintah untuk melakukan pendidikan anak dengan perhatian/pengawasan . Makna perhatian adalah mencurahkan segenap perhatian penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, mengawasi dan memperhatikan kesiapan mental dan sosial.

C.    Lukman ( 31: 13 )

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖإِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾

Artinya :
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Kata ya’izhuhu terambil dari kata  wa’zb yaitu nasehat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikannya sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Penyebutan kata ini sesudah kata “dia berkata” untuk memberi gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak. Kata ini juga mengisyaratkan bahwa nasihat itu dilakukan dari saat ke saat.

Kata “bunnayya” adalah patron yang menggambarkan kemungilan. Asalnya adalah “ibny” dari kata“ibn” yakni anak lelaki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayang. Dari sini kita dapat berkata bahwa ayat diatas memberi isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik.

Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/ mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wudhu’ dan keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik.

D.    An- Nisa’ ( 4: 9 )

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٩﴾

Artinya :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Dari kata sadidan yang mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya, diperoleh pula petunjuk bahwa ucapan yang meruntuhkan, jika disampaikan harus pula dalam saat yang sama memperbaikinya, artinya kritik yang disampaikan hendaknya merupakan kritik yang membangun atau dalam arti informasi yang disampaikan harus mendidik.

E.     At- Thur ( 52: 21 )

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١﴾

Artinya :
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Ayat diatas menurut Thabathaba’i merupakan salah satu penyampaian berita gembira tentang anugerah Allah kepada orang- orang beriman, bahwa anak cucu mereka akan mengikuti mereka masuk ke surga sehingga lebih sempurna lagi kegembiraan mereka. Atas dasar itu, maka tanwin pada kata bi iman (in) bukan menunjukan kebesaran dan kesempurnaan iman itu, tetapi kesederhanaannya - selama telah tercapai batas minimal - walau tidak mencapai peringkat iman orang tua mereka.

Referensi : 
http://denidavinc.blogspot.co.id/2012/09/ayat-ayat-pendidikan-anak.html

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More